Peneliti keamanan siber mengungkap botnet Internet of Things (IoT) baru bernama Dysphoria yang menggunakan infrastruktur nama domain berbasis blockchain dan jaringan relay perangkat korban untuk menyembunyikan server perintah dan kontrol (Command-and-Control/C2) mereka dari upaya pemblokiran aparat penegak hukum.
Botnet ini menyasar penyedia layanan internet (ISP) dan industri gaming sebagai target utama serangan Distributed Denial-of-Service (DDoS) secara rutin. Selain itu, ribuan perangkat IoT yang terinfeksi mulai dari router, gateway, hingga kamera pengawas juga menjadi korban karena diubah fungsinya menjadi node perantara (relay) untuk meneruskan lalu lintas serangan.
Deteksi terhadap botnet ini pertama kali dikemukakan oleh CNCERT (tim tanggap darurat komputer nasional Tiongkok) dan XLab, laboratorium intelijen ancaman milik perusahaan keamanan siber Qi'anxin. Temuan tersebut kemudian dikonfirmasi secara independen oleh NICT Jepang, Nokia Deepfield, dan Comcast.
Dari sisi skala, Dysphoria dilaporkan telah menginfeksi lebih dari 200.000 perangkat secara global, dengan puncak mencapai 239.000 bot di luar negeri dalam sehari dan 4.401 perangkat aktif di Tiongkok. Meski begitu, angka ini belum dapat dipastikan kebenarannya secara objektif, karena data tersebut belum diverifikasi secara independen oleh pihak ketiga dan para peneliti tidak mempublikasikan metodologi penghitungan maupun cara eliminasi duplikasi data.
Kronologi Evolusi Botnet
Rangkaian peristiwa terkait Dysphoria tercatat berlangsung sebagai berikut:
- 19 Maret 2026 - Operasi penegakan hukum gabungan Amerika Serikat, Jerman, dan Kanada menindak infrastruktur botnet JackSkid.
- 25 Maret 2026 - XLab menangkap sampel awal yang menunjukkan perpindahan infrastruktur ke Ethereum Name Service (ENS).
- Akhir April 2026 - Pengembang botnet menambahkan enkripsi string RC4 kustom sekaligus kemampuan resolusi ENS.
- Awal Mei 2026 - Ditambahkan kemampuan resolusi Solana Name Service (SNS).
- 25 Juni 2026 - Muncul varian relay-only yang membuang modul DDoS dan berfokus pada pemetaan port.
- 14–20 Juli 2026 - CNCERT dan XLab mencatat pemantauan telemetri aktif terhadap ribuan perangkat korban.
- 25 Juli 2026 - XLab resmi mempublikasikan hasil analisis teknis mereka terkait evolusi arsitektur dan rantai relay botnet Dysphoria.
Teknik Penyebaran dan Infeksi
Para pelaku menyebarkan Dysphoria terutama melalui tebakan kata sandi lemah (brute force) pada layanan Telnet dan SSH. Selain itu, mereka juga mengeksploitasi celah keamanan Remote Code Execution (RCE) pada perangkat IoT, salah satunya celah command-injection pada router Linksys E1700 yang tercatat sebagai CVE-2025-9528.
Infrastruktur Berbasis Blockchain Strategi Anti-Penyitaan
Salah satu ciri khas Dysphoria adalah penggunaan domain terdesentralisasi berbasis blockchain untuk menyimpan record IP dari node distribusinya, yaitu:
- Ethereum Name Service (ENS) - menggunakan domain seperti m3rnbvs5d[.]eth untuk resolusi C2 dasar, dan burrberry[.]eth yang secara spesifik berfungsi menampung alamat IPv4 terenkode milik node distribusi.
- Solana Name Service (SNS) - menggunakan domain seperti 24carnforth2merseyside[.]sol untuk menyuplai dan mempublikasikan record infrastruktur tambahan lainnya.
Tujuan penggunaan ENS dan SNS ini adalah untuk mencegah tindakan penyitaan domain (seizure) yang biasa dilakukan aparat penegak hukum terhadap domain berbasis DNS konvensional.
Arsitektur Relay Berbasis Perangkat Korban
Dysphoria juga mengandalkan arsitektur victimized relay. Ketika bot aktif, perangkat yang terinfeksi meminta daftar server C2 kepada node distribusi melalui protokol HTTP biasa. Namun, endpoint yang diberikan bukanlah server C2 asli, melainkan perangkat korban lain yang telah terinfeksi sebelumnya (infected-device relays). Teknik berlapis ini membuat server kontrol utama tetap tersembunyi di balik jaringan relay tersebut.
Varian Relay-Only dan Pemetaan Port UPnP
Varian yang muncul pada 25 Juni 2026 menghapus modul serangan DDoS dan mengalihkan fungsi perangkat untuk memetakan port pada gateway lokal menggunakan UPnP (Universal Plug and Play). Varian ini juga memanfaatkan system call epoll pada Linux untuk secara efisien memindahkan (shuttling) lalu lintas data antara koneksi luar dan server C2 jarak jauh, dengan melewati mekanisme Network Address Translation (NAT).
Keterkaitan dengan Botnet JackSkid dan Kimwolf (AISURU)
Dysphoria diketahui memiliki keterikatan lini (lineage) langsung dengan botnet JackSkid salah satu dari empat botnet IoT yang ditindak dalam operasi hukum gabungan AS, Jerman, dan Kanada pada 19 Maret 2026. Dokumen pengadilan bahkan mengaitkan lebih dari 90.000 perintah DDoS dengan JackSkid.
Selain itu, penggunaan C2 berbasis ENS pada Dysphoria juga memiliki kemiripan struktur dengan botnet Kimwolf (dikenal juga sebagai AISURU), yang sebelumnya sempat dianalisis oleh XLab pada akhir tahun lalu.
Diperjualbelikan di Pasar Gelap Siber
Kapasitas serangan botnet ini turut diperjualbelikan secara terbuka melalui etalase komersial di pasar gelap siber. Operator menawarkan jasa serangan DDoS dengan klaim kapasitas hingga sekitar 4 Tbps, dengan banderol harga mulai dari puluhan hingga ratusan dolar AS.
Tantangan Penanganan (Take-down)
Meski arsitektur terdesentralisasi dan penggunaan relay perangkat korban membuat Dysphoria sulit dihentikan, botnet ini disebut tidak sepenuhnya kebal terhadap tindakan penegakan hukum. Penegak hukum dan peneliti keamanan masih berpeluang memutus rantai operasinya dengan menyasar record blockchain, node distribusi yang dapat diakses, serta relay-relay yang telah terkompromi.
Baca Juga Tentang: Botnet-C2 Analisis-Mirai-Xlab Powmix RondoDox PolarEdge-GeoServer
Benediktus Sava – Security Researcher
.png)




.png)